Sabtu, 08 Januari 2011

Singapura punya Orchard Road, Hongkong ada Nathan Road, Jakarta punya?

Saya senang melihat konsep tata ruang pusat perbelanjaan di luar negeri, seperti Orchard Road di Singapura. Pertokoan tersusun dengan rapi di jalan tersebut, yang dikombinasikan dengan beberapa bangunan mall dengan sejumlah lantai. “one street shopping line” begitu penyebutan bagi kawasan belanja yang terletak di sebuah jalan. Lengkap semua berada di jalan tersebut, mulai dari mall seperti Takashimaya, hingga pedagang roti dan kue kecil yang berada di tengah-tengah pertokoan di sepanjang jalan tersebut. Dengan begitu padat dan rapinya toko-toko perbelanjaan, Orchard Road didaulat sebagai urat nadi perdagangan Singapura.

129448246296725503

Orchard Road (dok pribadi)

Jika Singapura memiliki Orchard, maka Hongkong, yang juga salah satu destinasi belanja orang-orang Asia kebanyakan, punya Nathan Road. Sama dengan Orchard, Nathan Road pun memiliki kombinasi pertokoan dengan mall yang berderet dengan rapi di sepanjang jalan ini. Pengunjung tinggal berjalan kaki, dan dapat mengunjungi gerai Bossini di deretan toko pinggir jalan hingga gerai Chocoolate yang lebih lux yang berada di dalam mall The One. Sebenarnya tidak hanya Nathan Road saja yang menjadi pusat belanja dengan konsep “one street shopping line,” ada ladies market di jalan Tung Choi, Mongkok. Namun, sepertinya halnya Orchard, Nathan Road seperti lebih lengkap dan favorit bagi wisatawan.

Menarik sebenarnya melihat tata ruang perbelanjaan seperti di kedua negara ini. Bahkan tidak hanya di sana, namun konsep seperti ini ada di banyak negara, dengan mengharuskan wisatawan untuk berjalan kaki di sepanjang area. Hampir tidak ada area untuk mobil parkir, kecuali di sejumlah mall. Maka di daerah wisata tersebut pun terdapat stasiun MRT (Singapura) atau MTR (Hongkong), sebagai pilihan transportasi bagi pengunjung. Tidak luput pula resto-resto yang bervariasi mulai dari selera lokal hingga McD yang berselera internasional.

Indonesia juga memiliki daerah-daerah tertentu yang memiliki konsep sama dengan dua jalan tersebut. Di Bali, wisatawan mengenalnya dengan Kuta Square. Namun, daerah tempat berkumpulnya toko, resto, dan gerai lainnya ini tidak berada di satu jalan, melainkan di kawasan pantai Kuta. Dominasi toko lebih kepada barang-barang branded, yang harganya tidak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat.

Konsep yang sama juga ditemukan di Jogja dengan Malioboro-nya. Sepanjang jalan tersebut dapat ditemukan hotel, pertokoan, resto, hingga pedagang emperan. Kalau daerah yang satu ini memang terletak di satu jalan, Jalan Malioboro. Beda dengan Kuta Square, Malioboro lebih memberikan banyak pilihan layaknya Nathan dan Orchard. Batik mahal seperti di gerai Keris hingga batik hasil tawar-menawar di Pasar Beringharjo bisa didapatkan konsumen. Pengunjung harus memilih berjalan kaki menyusuri jalan ini, dengan tambahan opsi, seperti naik becak atau delman.

129448303365780678

Malioboro di waktu pagi (dok pribadi)

Konsep pertokoan dengan “one street shopping line” memang memberikan nilai tambah. Semua golongan masyarakat bisa berada di sana. Berbeda tentunya dengan mall yang merupakan bangunan tertutup, dengan hanya sejumlah kalangan bisa ada di dalamnya. Bahkan di sebagian besar mall di Jakarta, petugas sudah siap untuk mengecek setiap pengunjung. Mengenai hal ini, saya pernah memperoleh cerita langsung dari seorang tukang pijit. Dia bercerita ingin menjemput suami adiknya di salah satu mall di kawasan Senayan. Dengan beralaskan kaki sendal jepit, petugas yang melihat keseluruhan penampilannya, langsung menyuruh dia dan adiknya untuk masuk lewat pintu belakang.

Pandangan mata pun terbatas dengan luas ukuran gedung mall. Udara yang kita hirup berasal dari AC, dan kita tidak bisa duduk-duduk di bawah taman kecil seperti halnya di sepanjang Malioboro ataupun Orchard Road. Tidak melulu mall atau toko yang ada di jalan tersebut, bisa tempat hiburan, hingga museum. Jalan pun harus bisa diminimalkan dengan keberadaan kendaraan pribadi, dan diberi fasilitas kendaraan umum. Saya mendambakan konsep pertokoan seperti beberapa tempat yang telah saya sebutkan ada di daerah Jakarta. Pasar Baru, yang telah berdiri dari tahun 1800-an, sebenarnya merupakan “one street shopping line”, namun komoditas yang diperdagangkan lebih didominasi sepatu dan kain. Bukan tidak mungkin Jakarta mempunyai atau membangun lebih dari Pasar Baru, sehingga wisatawan pun akan memandang Jakarta lebih menarik.

Rabu, 05 Januari 2011

Cabai Merah Di Mekkah, Manis Harganya.

Tidak Ada terompet dan petasan disini, kami memang tidak merayakan pergantian tahun baru, tidak ada tradisi semacam itu di Mekkah, pun ketika kemarin pergantian tahun baru Hijriyah, berlalu begitu saja, tapi bukan berarti tanpa makna, setidaknya kami punya rencana perbaikan ditahun mendatang, dalam banyak hal.

Dirayakan atau tidak, hari-hari akan terus belalu, berganti minggu, minggu berganti bulan, dan terus akan berganti tahun berikutnya. Rasanya baru kemarin Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengumumkan, tumpukan sampah yang terkumpul selama perayaan tahun baru 2011 yang mencapai 7.149 ton, sungguh fantastis, kado istimewa buat pemda DKI.

Begitu cepatnya waktu berlalu, 3 hari sudah tahun baru terlewati, kegiatan masih seperti kemarin-kemarin, biasa-biasa saja. Hari ini selasa, istirahat dirumah duduk-duduk sambil menikmati catle fish, cumi-cumi goreng, sang gurita mini, sebagian ada yang bertelur, dengan nasi panas-panas, sambal dan sedikit lalapan, bukan main nikmatnya, awal tahun baru yang mengesankan.

1294148779873926282

atas, cabai ex indonesia rp 60.000, bawah cabai lokal rp 35.000 (a.saukani)

Meski cukupan lama tinggal di negri gurun, dalam urusan makan lidah jawa kami sama sekali tidak bisa berkelit dari yang namanya sambal, sambal memang sudah menjadi makanan kegemaran sebagian besar masyarakat Indonesia, jadi dimanapun kita bercokol, sambal wajib hadir bukan cuma sekedar pelengkap hidangan dimeja makan.

Urusan sambal tentu tidak bisa lepas dari peran cabai, utamanya cabai merah sebagai bahan utamanya, cabai merah di Indonesia saat ini sedang pedas-pedasnya, banyak ibu rumah tangga mengeluh enggan mendekat, cabai merah diberitakan harganya sempat mencapai RP 70.000-80.000/KG, bahkan di Batam harga cabai merah mencapai RP 100 ribu/KG, harga cabai rawit dikabarkan lebih pedas lagi. Bagaimana mungkin cabai bisa sedemikian mahal?.

Adapun di Mekkah cabai merah yang didatangkan dari Indonesia 1 KG dijual dengan harga SR 26, setara dengan RP 60.000, relativ lebih murah dengan di Indonesia, ini sudah dianggap sangat mahal, kita tahu cabe tersebut tentu harus terbang ribuan kilo meter dengan menumpang pesawat, bahkan sebelum naik pesawat bisa dipastikan cabai tersebut juga harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dari sentra produksi cabai tersebut.

Sedangkan cabai merah lokal Mekkah, memasuki musim dingin ini, boleh dibilang juga sedang langka, namun mereka masih menjualnya dengan harga SR 15 setara dengan RP 35.000 saja, Kok bisa yah! cabai merah Mekkah lebih murah, padahal tidak ada hutan cabai di Mekkah. Cabai merah Mekkah, sama pedasnya, tapi lebih manis harganya.

1294149304542578436

cumi-cumi diantara ikan dan udang, dipasar mekkah (a.saukani)

Cumi-cumi, hidangan makan siang kami hari ini, 1 KG kami beli cuma SR 10, dengan perbandingan kurs RS 1 = RS 2300 - RS 2500, setara dengan RP 25.000 saja, demikian pula ikan laut lainnya, udang serta rajungan (kepiting laut) dijual dengan harga relativ murah, sedang di Cilegon, Banten, diberitakan harga cumi-cumi mencapai RP 30.000, di Jakarta tentu lebih mahal lagi. Bagaimana mungkin Indonesia yang punya demikian luas lautan, dengan garis pantai terpanjang di Dunia, produk hasil lautnya demikian mahal?.

Beras sebagai makanan pokok orang Indonesia, dengan mudah bisa kita temui ditoko yang menjual segala yang beraroma Indonesia di Mekkah. Beras pandan wangi, 1 karung 5 KG dijual dengan harga SR 25, berarti 1 KG beras tersebut berharga SR 5 setara RP 12.000 saja, sedangkan di Jakarta, beras dijual RP 8000/KG, beras di Mekkah lebih mahal, ini bisa kita maklumi, di Mekkah tidak ada sawah. Cuma ada satu pertanyaan dengan beras pandan wangitersebut, kok Thailand sebagai pemasoknya?. Bagaimana kiranya Thailand bisa mendapatkan nilai lebih dari pandan wangi?.

12941494231082625007

beras pandan wangi ex thailand (a.saukani)


Selasa, 04 Januari 2011

ketika kinerja aparatur negara dipertanyakan

cover-apartur-OKE.jpgJudul Buku : Reformasi Aparatur Negara Ditinjau Kembali

Penulis : Yeremias T. Keban dkk.

Editor : Wahyudi Kumorotomo dan Ambar Widaningrum

Pengantar : Agus Dwiyanto

Cetakan : 2010

Penerbit : Gava Media atas kerja sama dengan JMKP dan MAP UGM


Tema besar dari buku ini adalah pengembangan sumber daya manusia. Disebutkan bahwa, terkait dengan sumber daya manusia, kelemahan yang terdapat dalam sumber daya aparatur negara masih sangat berpengaruh terhadap daya saing dan pembangunan bangsa yang ditinjau dari berbagai macam aspek. Kinerja dan perilaku para pejabat pejabat kita yang dapat dikatakan kurang profesional, kurang responsif, dan yang paling utama adalah korup sudah lama menjadi permasalahan. Akan tetapi setelah dilakukan perubahan atau reformasi yang telah lama di gembar gemborkan oleh pemerintah tidak membawa perubahan yang signifikan.

Selain masalah korupsi, persoalan lain yang dihadapi dalam masalah kinerja para birokrat kita adalah profesionalitas dan responsivitas para aparatur negara yang tergolong masih sangat rendah. Penyebab dari hal tersebut bisa dikatakan saling berkaitan dalam wujud persoalan yang dapat dikatakan kompleks. Dari struktur dan kelembagaan, pembagian fungsi, mekanisme kerja, hingga persoalan budaya yang ada dalam organisasi pemerintahan (hal. 2). Sehingga solusi untuk mengatasi persoalan profesionalitas dan responsivitas aparatur negara ternyata harus dilakukan secara komprehensif dan didukung oleh perumus kebijakan tentunya.

Buku ini diterbitkan dalam rangka purna bakti Prof. Dr. Sofian Efendi, MPIA. Buku ini hadir dengan analisis yang kritis dari murid, kolega dan teman teman beliau yang dihimpun menjadi suatu bunga rampai. Secara umum buku ini dibagi menjadi empat bagian.

Bagian pertama berjudul “Rreformasi Aparatur Birokrasi”. Mengulas tentang pembangunan aparatur yang dimulai dari jenjang pimpinan, dalam hal ini pemimpin menggunakan kewenangannya untuk mendorong pelaksanaan secara konsisten dan berkesinambungan. Peningkata kapasitas etika etika dituntut dari aparat pemerintahan yang merupakan salah satu faktor dalam proses pengelolaan kepentingan publik. Setiap keputusan merupakan kunci untuk mengelola permasalahan publik menjadi lebih baik atau malah menjadi lebih buruk. Untuk mendorong reformasi aparatur birokrasi diperlukan konsep servant leadership (kepemimpinan yang melayani) sebagai mana disebutkan oleh ario wicaksono (hal. 4), aspek lain yang diperhatikan dalam reformasi birokrasi adalah membangkitkan inovasi dan kreativitas aparatur pemerintahan, dimana organisasi publik perlu belajar untuk merangsang kedua hal tersebut karena selama ini kedua hal tersebut dirasa masih kurang.

Bagian kedua berjudul “Desentralisasi”, mendiskusikan tentang isu desentralisasi yang ternyata tidak menjadi obat yang mujarab untuk menyelesaikan permasalahan kesenjangan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Luasnya wilayah indonesia, kemungkinan munculnya problem problem diatas sangatlah nyata. Gagalnya reformasi aparatur pemerintahan sebagai mana yanag para aparatur daerah tidak sungguh sungguh mereformasi sistem administrasi publik karena kepentingan mereka akan terganggu. Rekomendasi yang tertulis dalam bab ini adalah pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengevaluasi kinerja aparatur pemerintahan dan menentukan promosinya

Bagian ketiga berjudul “Kebijakan Publik”, dikatakan bahwa proses kebijakan yang partisipatif perlu peran serta media massa yang tidak saja sebagai sumber informasi akan tetapi juga sebagai institusi lembaga pendidikan politik bagi masyarakat agar lebih paham atau melek akan politik dan sensitif terhadap praktik prktik penyelenggaraan pemerintahan yang menyimpang. Tulisan dalam bab ini mengatakan bahwa kebijakan publik merupakan aktifitas politik dimana kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah menggambarkan pertarungan politik diantara berbagai elemen masyarakat.

Bagian ke empat berjudul “Pembangunan dan Globalisasi”. Membahas mengenai pentingnya respon kritis terhadap pembangunan, hal yang mendukung pembangunan tersebut, selain itu juga pola pola dari globalisasi yang dalam salah satu tulisan dalam bab ini di fokuskan ke sektor pendidikan. Dikatakan bahwa perlunya mengurangi hambatan hambatan pembangunan yang salah satunya berasal dari praktik birokrasi yang mana perlu biaya tinggi. peran dan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan swasta diharapkan dapat terjalin dan saling bekerja sama untuk membangun bangsa ini. Di sisi globalisasi, pola globalisasi jasa pendidikan mengandung implikasi kebijakan yang rumit, dimana terdapat tujuh isu yang muncul yang memperjelas peta masalah perkembangan sumber daya manusia di indonesia, terutama yang terkait dengan pola internasionalisasi dan transnasionalisasi jasa pendidikan.

Secara umum buku in mudah dipahami, bahkan bagi mahasiswa tingkat awal. Keberagaman profesi penulis-penulis yang terlibat dalam penyusunan buku ini menjadikan buku ini semakin kaya dengan alur berpikir dan prespektif dalam menilai soal reformasi aparatur negara di indonesia.

septian